Asal-Usul dan Masa Muda Sultan Muhammad Zainuddin
Sultan Muhammad Zainuddin adalah sultan pertama Kerajaan Matan yang memerintah sekitar tahun 1665 hingga 1724. Nama kecilnya adalah Gusti Jakar Negara, yang kemudian dikenal pula dengan gelar Gusti Jakar Kencana. Ia merupakan putra sulung dari raja terakhir Kerajaan Sukadana, Gusti Kesuma Matan atau yang juga disebut Gusti Mustika, yang memerintah antara tahun 1622 hingga 1665. Sejak masa mudanya, Sultan Muhammad Zainuddin telah terlibat dalam berbagai gejolak politik kerajaan, termasuk serangan dari Sultan Agung Mataram pada tahun 1622 serta gangguan bajak laut yang merajalela di sepanjang perairan pantai dan Selat Karimata.
Perpindahan Pusat Kerajaan dan Lahirnya Matan
Masa pemerintahannya ditandai oleh perpindahan pusat kekuasaan kerajaan sebanyak beberapa kali. Akibat pertikaian yang muncul antara Kerajaan Landak dan Kerajaan Sukadana, ia memindahkan pusat kerajaan dari Indralaya ke wilayah Padang, yang kini dikenal sebagai Tanjungpura. Ketika Sukadana jatuh ke tangan pihak lawan, Sultan Muhammad Zainuddin berhasil merebutnya kembali berkat bantuan Opu Daeng Manambon, seorang bangsawan dari Kerajaan Luwuk, Sulawesi, yang kemudian menikahi putrinya, Putri Kesumba. Pada masa pemerintahannya pula, nama “Matan” mulai digunakan sebagai identitas kerajaan, menggantikan nama Tanjungpura yang sebelumnya lebih dikenal.
Konflik Perebutan Takhta dengan Pangeran Agung
Salah satu peristiwa paling dramatis dalam pemerintahannya terjadi pada tahun 1710, ketika saudaranya sendiri, Pangeran Agung, yang selama ini membantu memperluas syiar Islam di kerajaan, mulai merasa iri dan tidak puas dengan kedudukannya. Pangeran Agung menyusun kekuatan secara diam-diam dan mengepung istana saat Sultan Zainuddin tengah melaksanakan salat di masjid. Sultan sempat diusir dan dikepung dalam peristiwa perebutan kekuasaan tersebut, namun akhirnya berhasil mempertahankan takhtanya.
Pengasingan Pangeran Agung dan Sejarah Tembalok
Sebagai bentuk hukuman sekaligus pengasingan, Sultan Muhammad Zainuddin kemudian membangunkan Pangeran Agung sebuah kota kecil khusus lengkap dengan empat puluh pelayan atau gundik untuk mendampinginya. Daerah pengasingan ini oleh masyarakat Ketapang dikenal dengan nama Tembalok, yang secara harfiah berarti tempat penjara raja, berlokasi di kawasan Sungai Awan seberang Sukabangun. Peristiwa ini dicatat dalam berbagai sumber sejarah Kalimantan Barat sebagai salah satu tonggak penting yang menandai perkembangan wilayah yang kini menjadi Kota Ketapang.
Penguatan Islam dan Pewarisan Takhta Kerajaan
Dalam hal keagamaan dan tata pemerintahan, era Sultan Muhammad Zainuddin turut memperkuat fondasi Islam di Kerajaan Matan yang sebelumnya sudah dirintis oleh leluhurnya. Pernikahannya dengan Nyai Kendi, seorang putri Dayak asli, melahirkan dua putra yang kelak melanjutkan tampuk kekuasaan, yaitu Pangeran Mangkurat yang bergelar Sultan Diri Laga dan Pangeran Ratu yang bergelar Pangeran Ratu Agung.
Warisan Sejarah dan Dinasti Kesultanan Matan
Sepeninggal Sultan Muhammad Zainuddin, kerajaan diserahkan kepada putranya, Pangeran Mangkurat, dan garis keturunannya terus berlanjut memerintah Kerajaan Matan hingga beberapa generasi berikutnya. Warisan sejarahnya kini menjadi rujukan penting dalam memahami asal-usul Kota Ketapang, khususnya terkait perdebatan mengenai hari jadi kota yang hingga saat ini masih dalam proses kajian oleh para sejarawan dan pemerintah daerah.
Keteladanan Sultan Muhammad Zainuddin
Sebagai figur pembuka dinasti Kesultanan Matan, kisah Sultan Muhammad Zainuddin sangat relevan diperkenalkan kepada generasi muda Ketapang sebagai representasi kepemimpinan yang menghadapi konflik internal keluarga namun tetap mampu mempertahankan kedaulatan kerajaan serta memperluas pengaruh Islam di tanah Kalimantan Barat