Panembahan Gusti Muhammad Sabran sebagai Penguasa Kesultanan Matan
Panembahan Gusti Muhammad Sabran merupakan salah satu penguasa berpengaruh dalam sejarah Kesultanan Matan dan Tanjungpura. Ia tercatat memerintah dalam rentang waktu yang panjang, dari tahun 1845 hingga 1924. Ia merupakan putra dari Panembahan Anom Kusuma Negara. Pengangkatannya sebagai penguasa diresmikan melalui Surat Keputusan Gubernemen Hindia Belanda Nomor 3 tertanggal 11 Maret 1847. Karena masih berusia muda, pada awal pemerintahannya dibentuk semacam perwalian untuk membantunya menjalankan pemerintahan.

Masa Pemerintahan yang Panjang
Masa kekuasaan Panembahan Gusti Muhammad Sabran berlangsung hampir delapan dekade. Periode tersebut menjadikannya salah satu penguasa dengan masa pemerintahan terpanjang dalam sejarah kerajaan di wilayah Ketapang. Selama memimpin, ia menghadapi berbagai perubahan besar dalam kehidupan politik dan pemerintahan. Ia juga menyaksikan semakin kuatnya intervensi politik kolonial Belanda di Kalimantan Barat serta dinamika hubungan dengan kerajaan Sukadana, Simpang, dan Landak.

Pembangunan Istana Muliakerta
Salah satu warisan penting dari masa pemerintahannya adalah pembangunan Istana Muliakerta. Istana ini menjadi cikal bakal Keraton Matan yang hingga kini masih dapat disaksikan di Desa Mulia Kerta, Kecamatan Benua Kayong. Pada masa berikutnya, bangunan tersebut mengalami berbagai renovasi dan rekonstruksi. Namun, fondasi awal pembangunan istana tetap dikaitkan dengan masa kekuasaan Panembahan Gusti Muhammad Sabran sebagai salah satu penguasa Kesultanan Tanjungpura.

Mempertahankan Eksistensi Kerajaan di Masa Kolonial
Panembahan Gusti Muhammad Sabran memerintah pada masa ketika kekuasaan kolonial Hindia Belanda semakin menguat. Kekuasaan tradisional kerajaan-kerajaan Melayu di Kalimantan Barat secara bertahap mulai dibatasi oleh sistem pemerintahan kolonial. Di tengah perubahan tersebut, ia berupaya mempertahankan eksistensi dan wibawa Kesultanan Matan. Kerajaan tetap menjadi institusi budaya dan politik yang dihormati oleh masyarakat setempat sepanjang masa pemerintahannya.

Akhir Masa Pemerintahan dan Pergantian Kekuasaan
Masa pemerintahan Panembahan Gusti Muhammad Sabran berakhir pada tahun 1924 setelah berlangsung selama puluhan tahun. Takhta kerajaan kemudian diteruskan oleh putranya, Pangeran Laksamana Uti Muchsin. Setelah itu, kepemimpinan Kesultanan Matan dilanjutkan oleh generasi berikutnya, termasuk Gusti Muhammad Saunan. Pergantian kekuasaan tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjang kerajaan hingga memasuki masa perubahan politik pada abad ke-20.

Keraton Matan sebagai Warisan Sejarah
Peninggalan sejarah dari masa Panembahan Gusti Muhammad Sabran, terutama kompleks Keraton Matan, kini menjadi salah satu warisan budaya penting di Kabupaten Ketapang. Situs tersebut terus dilestarikan sebagai bagian dari sejarah Kesultanan Matan Tanjungpura. Keraton menjadi saksi perjalanan panjang pemerintahan kerajaan serta perkembangan masyarakat Ketapang. Keberadaannya juga menjadi bagian dari identitas sejarah dan kebanggaan masyarakat setempat.

Nilai Kepemimpinan dan Warisan Budaya
Kisah kepemimpinan Panembahan Gusti Muhammad Sabran penting diperkenalkan kepada generasi muda melalui pembelajaran sejarah lokal. Masa pemerintahannya menunjukkan bagaimana kerajaan tradisional di Ketapang berupaya bertahan dan beradaptasi di tengah tekanan kolonial. Kepemimpinannya juga meninggalkan warisan fisik dan budaya yang masih dapat dipelajari hingga saat ini. Kisah tersebut mengajarkan pentingnya menjaga identitas, melestarikan warisan sejarah, dan memahami perjalanan masyarakat Ketapang