Masa Kecil dan Pendidikan
Dr. Agoesdjam lahir pada 28 Januari 1888 di Pacitan, Jawa Timur, dari kalangan bangsawan setempat. Pada usia 15 tahun, tepatnya tahun 1903, ia diterima di STOVIA (School tot Opleiding van Indische Artsen) di Batavia. Sekolah tersebut merupakan lembaga pendidikan kedokteran bagi pribumi yang kelak menjadi cikal bakal Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Ia menempuh pendidikan selama sembilan tahun sambil tinggal di asrama bersama pelajar dari berbagai daerah di Nusantara.

Pergaulan dengan Tokoh Pergerakan Nasional
Selama menempuh pendidikan di STOVIA, Dr. Agoesdjam bergaul dengan sejumlah tokoh yang kelak menjadi pelopor pergerakan nasional. Dari enam belas teman seangkatannya, lima orang kemudian menjadi tokoh pendiri Boedi Oetomo. Di antara mereka terdapat dr. Soetomo dan dr. Gunawan Mangunkusumo. Pergaulan dengan para tokoh pergerakan sejak masa muda turut membentuk kesadaran kebangsaan yang memengaruhi perjalanan hidupnya.

Pengabdian sebagai Dokter
Setelah menyelesaikan pendidikan, Dr. Agoesdjam menjalani karier sebagai dokter di berbagai daerah. Ia pernah bertugas di Central Burgerlijke Ziekeninrichting Semarang dan Rumah Sakit Lepra Plantungan, Jawa Tengah. Selanjutnya, ia ditugaskan ke Singkawang dan Sambas untuk menangani penyakit lepra. Pada tahun 1921, ia dipindahtugaskan ke Pontianak dengan wilayah kerja yang mencakup seluruh keresidenan, termasuk melakukan kunjungan rutin ke kampung-kampung pedalaman.

Masa Perang dan Pendudukan Jepang
Pada 7 September 1941, Dr. Agoesdjam menikahkan putrinya, Djohar Insiyah, dengan dr. Soeharso, seorang ahli bedah lulusan NIAS Surabaya. Putrinya kemudian ikut bertugas bersama suaminya di Ketapang. Beberapa bulan setelah pernikahan tersebut, Perang Asia Timur Raya meletus dan Pontianak diserang oleh pesawat udara Jepang pada 19 Desember 1941. Peristiwa ini menandai dimulainya masa pendudukan Jepang yang penuh gejolak di Kalimantan Barat.

Bertugas dan Dicurigai di Ketapang
Pada tahun 1943, Dr. Agoesdjam meninggalkan keluarganya di Pontianak dan berangkat ke Ketapang. Ia bertugas menggantikan menantunya, dr. Soeharso, yang sedang menjalani cuti ke Jawa. Kedekatannya dengan tokoh-tokoh pergerakan kemerdekaan sejak masa muda membuat aktivitasnya mulai dicurigai oleh pemerintah pendudukan Jepang. Pada masa itu, Jepang memang melakukan pengawasan ketat terhadap kalangan intelektual pribumi yang dianggap berpotensi menggerakkan perlawanan.

Penangkapan dan Pengorbanan
Pada tahun 1944, Dr. Agoesdjam ditangkap dalam rangkaian penangkapan besar-besaran terhadap kaum intelektual di Kalimantan Barat. Ia ditangkap oleh gunkanseibu atau kempetai Jepang bersama sejumlah dokter lainnya, termasuk dr. Ismail, dr. Achmad Diponogoro, dan dr. Soenaryo. Ia didakwa membantu gerakan subversi melawan pemerintahan pendudukan Jepang. Dr. Agoesdjam kemudian menjadi salah satu korban pembantaian kaum intelektual di Kalimantan Barat, tanpa catatan pasti mengenai lokasi akhir pemakamannya.

Warisan dan Keteladanan Dr. Agoesdjam
Untuk mengenang jasa dan pengabdiannya, nama Dr. Agoesdjam diabadikan sebagai nama Rumah Sakit Umum Daerah dr. Agoesdjam di Ketapang yang resmi berdiri pada 16 Juli 1984. Kisah hidupnya memperlihatkan pengabdian seorang dokter yang berjalan seiring dengan semangat perjuangan bangsa. Perjuangan dan pengorbanannya menjadi teladan bagi generasi muda Ketapang. Kisahnya juga mengingatkan pentingnya menghargai jasa kaum intelektual pribumi yang menjadi korban pada masa pendudukan Jepang