Tenun tradisional merupakan salah satu warisan budaya benda yang menjadi kebanggaan masyarakat Kalimantan Barat, termasuk Ketapang, dengan beragam jenis yang mencerminkan kekayaan seni masyarakat setempat. Beberapa jenis tenun yang dikenal di Kalimantan Barat antara lain songket yang dihiasi benang emas atau perak untuk keperluan seremonial, tenun ikat dengan motif khas hasil proses pengikatan benang sebelum diwarnai, serta tenun pakan yang mengandalkan pewarna alami dari tumbuhan.
Di kalangan masyarakat Dayak, tenun tradisional dikenal dengan sebutan kain kebat, yang dibuat melalui teknik tenun tangan yang rumit dan sarat makna simbolis. Kain kebat dianggap sebagai simbol kehormatan, keberuntungan, dan kesejahteraan bagi pemakainya, dengan motif yang sering kali terinspirasi dari alam maupun mimpi sang penenun. Proses pembuatannya memerlukan waktu yang cukup lama, namun hasil akhirnya sebanding dengan nilai seni dan budaya yang terkandung di dalamnya.
Sebagai warisan budaya benda, tenun tradisional bukan hanya bernilai estetis tetapi juga menjadi bagian penting ekonomi kreatif masyarakat Kalimantan Barat. Pelestarian tenun terus didorong melalui berbagai kompetisi, pameran, hingga pengembangan produk turunan seperti kopiah dan aksesori. Dalam konteks pembelajaran, pengenalan tenun tradisional dapat menumbuhkan apresiasi terhadap kerajinan tangan lokal sekaligus membuka wawasan tentang potensi pengembangan ekonomi kreatif berbasis budaya daerah