Panglima Tentemak dan Perjuangan Rakyat Ketapang
Panglima Tentemak adalah salah satu tokoh perlawanan rakyat Ketapang yang namanya melekat kuat dalam ingatan masyarakat, khususnya di kawasan Tumbang Titi. Ia dikenal sebagai panglima pasukan di bawah pimpinan Uti Usman, seorang pemimpin perlawanan terhadap kesewenangan kolonial Belanda. Tugas utamanya adalah menghadang dan menghadapi pasukan Belanda yang berupaya menekan masyarakat setempat, terutama di kawasan Sungai Limat. Wilayah tersebut menjadi salah satu titik pertahanan penting dalam rangkaian Perang Kedang.
Latar Belakang Perang Kedang
Perlawanan Tentemak bersama Uti Usman dan Kanduruhan Bajir merupakan respons rakyat terhadap kebijakan pajak kolonial Belanda yang dianggap menindas. Perjuangan tersebut dikenal sebagai Perang Kedang, yang bermula sejak tahun 1814 dan terus berkembang hingga memuncak pada tahun 1914. Pada masa itu, Belanda mengerahkan kekuatan militer yang lebih besar untuk menumpas perlawanan rakyat Tumbang Titi. Kecakapan dan kemampuan tempur pasukan pimpinan Uti Usman membuat pihak kolonial harus meningkatkan kekuatan untuk menghadapi mereka.
Pertempuran Melawan Kapten Brands
Untuk menghadapi Panglima Tentemak dan pasukannya, Belanda menugaskan Kapten Frederick Alexander Brands, seorang perwira senior yang berpengalaman dalam pertempuran. Pertempuran sengit kemudian terjadi antara pasukan Tentemak dan pasukan kolonial Belanda. Konflik tersebut berakhir dengan gugurnya kedua tokoh yang terlibat dalam pertempuran. Pada tanggal 22 Mei 1914, Panglima Tentemak gugur dalam perjuangan melawan pasukan Belanda. Peristiwa ini menjadi salah satu babak heroik dalam sejarah perlawanan rakyat Ketapang terhadap kolonialisme.
Legenda Gugurnya Panglima Tentemak
Kisah gugurnya Panglima Tentemak juga diwarnai oleh legenda yang hidup di tengah masyarakat setempat. Diceritakan bahwa jasadnya ditemukan terbaring berdampingan dengan jasad Kapten Brands. Lantak keramat masih tersampir di bahunya, sementara mandau atau parang panjang tetap tergenggam di tangan kanannya. Senjata pusaka tersebut dipercaya masih tersimpan dan diwariskan oleh keluarga di Benua Kayong, Ketapang. Kisah ini menjadi bagian dari warisan budaya dan ingatan kolektif masyarakat tentang perjuangannya.
Makam dan Penghormatan Masyarakat
Untuk menghindari kemungkinan pembalasan dari pihak Belanda, makam Panglima Tentemak pada awalnya sengaja dirahasiakan oleh masyarakat setempat. Setelah keadaan dinyatakan aman, lokasi makam kemudian diketahui oleh masyarakat luas. Makam Panglima Tentemak berada di Dusun Lubuk Lelabik, Desa Pengatapan Raya, Kecamatan Tumbang Titi. Hingga kini, makam tersebut menjadi tempat penghormatan dan ziarah bagi masyarakat. Keberadaannya menjadi pengingat atas perjuangan rakyat dalam mempertahankan hak dan martabat mereka.
Pengabadian Nama dan Jasa Panglima Tentemak
Sebagai bentuk penghormatan atas jasa-jasanya, nama Panglima Tentemak diabadikan sebagai nama salah satu stadion sepak bola terbesar di Kalimantan Barat, yaitu Stadion Tentemak di Desa Payak Kumang, Kecamatan Delta Pawan. Pemerintah daerah dan masyarakat Tumbang Titi juga membangun Tugu Juang untuk mengenang perjuangan Tentemak dan rekan-rekan seperjuangannya. Monumen tersebut menjadi simbol perjuangan rakyat melawan kolonialisme. Selain itu, terdapat upaya untuk mengusulkan Tentemak bersama tokoh perjuangan lainnya memperoleh pengakuan sebagai pahlawan nasional.
Nilai Kepahlawanan Panglima Tentemak
Kisah kepahlawanan Panglima Tentemak penting diperkenalkan kepada generasi muda melalui pembelajaran sejarah lokal. Perjuangannya menunjukkan bahwa rakyat di tingkat akar rumput mampu melakukan perlawanan terorganisasi terhadap kekuatan kolonial yang lebih besar. Keberanian, kearifan lokal, dan solidaritas masyarakat menjadi kekuatan utama dalam perjuangan tersebut. Kisah Panglima Tentemak mengajarkan pentingnya keberanian dan persatuan dalam mempertahankan hak serta martabat Masyarakat.