Masa Kecil dan Pendidikan
Rahadi Osman lahir di Pontianak pada 1 Agustus 1925. Ia merupakan putra dari Ismail Osman dan Sutinah Harjo Soegondho. Nama kecilnya adalah Abdul Syukur atau sering dipanggil Tjong. Kemudian, ia dikenal luas dengan nama Rahadi Osman. Rahadi Osman tumbuh dalam keluarga yang memiliki tujuh orang anak. Ayahnya dikenal sebagai seorang pengusaha ternama di Kalimantan Barat. Pendidikan awalnya ditempuh di ELS Pontianak selama tujuh tahun. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan ke HBS di Jakarta. Ia kemudian meneruskan pendidikan di Sekolah Tinggi Kedokteran Jakarta. Sejak muda, Rahadi Osman dikenal rajin dan memiliki semangat kebangsaan.

Aktivitas Pergerakan Pemuda
Selama menempuh pendidikan di Jakarta, Rahadi Osman aktif berorganisasi. Ia bergabung dalam organisasi Kepanduan Bangsa Indonesia atau KBI. Organisasi tersebut bertujuan membangkitkan rasa kebangsaan pemuda Indonesia. Rahadi Osman juga tinggal di Asrama Prapatan 10 Jakarta. Asrama tersebut menjadi salah satu pusat kegiatan pemuda dan mahasiswa. Menjelang proklamasi, tempat itu digunakan untuk menyusun strategi perjuangan. Rahadi Osman kemudian bergabung dengan Angkatan Pemuda Indonesia atau API. Ia bersama para pemuda ikut membicarakan persiapan kemerdekaan Indonesia. Semangat nasionalisme mendorongnya terlibat dalam perjuangan bangsa. Perjuangan tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya.

Peran dalam Penyebaran Proklamasi
Rahadi Osman turut terlibat dalam perjuangan menjelang Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Ia menghadiri pertemuan para pemuda pada 15 dan 16 Agustus 1945. Pertemuan tersebut membahas persiapan proklamasi kemerdekaan Indonesia. Setelah proklamasi dibacakan, berita kemerdekaan harus segera disebarluaskan. Pada 17 Agustus 1945, Rahadi mendapat tugas bersama rekan-rekannya. Ia membawa teks proklamasi menuju studio radio Jepang di Jakarta. Tugas tersebut penuh risiko karena studio dijaga oleh tentara Jepang. Namun, Rahadi dan rekan-rekannya berhasil masuk ke dalam studio radio. Berita Proklamasi Kemerdekaan akhirnya berhasil disiarkan pada siang hari. Peristiwa tersebut menunjukkan keberanian Rahadi Osman dalam perjuangan kemerdekaan.

Perjuangan di Ketapang
Setelah kemerdekaan, Rahadi Osman melanjutkan perjuangannya di Kalimantan Barat. Ia bersama rekan-rekannya bergabung dalam sebuah ekspedisi perjuangan. Pada 23 November 1945, rombongan berangkat dari Pelabuhan Tegal. Rahadi Osman memimpin rombongan sebanyak 43 orang pejuang. Mereka menggunakan kapal motor Sri Kayung menuju wilayah Ketapang. Rombongan berhasil mendarat di Sungai Besar pada 30 November 1945. Daerah tersebut kemudian dijadikan sebagai markas pertahanan sementara. Rahadi dan pasukannya mulai menyusun strategi menghadapi pasukan Belanda. Masyarakat setempat turut memberikan dukungan kepada para pejuang. Ketapang pun menjadi salah satu medan perjuangan penting bagi Rahadi Osman.

Gugur sebagai Pejuang
Perjuangan Rahadi Osman di Ketapang menghadapi berbagai tantangan berat. Pasukan Belanda akhirnya mengetahui lokasi persembunyian para pejuang. Mereka kemudian melakukan serangan secara tiba-tiba di Sungai Besar. Pasukan Rahadi menghadapi keterbatasan senjata dan pengalaman bertempur. Dalam pertempuran tersebut, Rahadi Osman tetap berjuang bersama pasukannya. Ia akhirnya gugur tertembak oleh pasukan Belanda pada 7 Desember 1945. Rahadi Osman dimakamkan di wilayah Sungai Besar, sesuai dengan tempat perjuangan terakhirnya. Jenazahnya kemudian dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Tanjungpura. Pengorbanannya menjadi bagian penting dari sejarah perjuangan Ketapang. Semangat nasionalisme Rahadi Osman menjadi teladan bagi generasi muda